Tribunners / Citizen Journalism
Keluarga di Era Digital: Ketika Rumah Tak Lagi Sekadar Ruang Fisik
Rumah yang dulu menjadi ruang utama berbagi cerita, kini sering kali sunyi oleh interaksi, meski penghuninya berada di tempat yang sama.
Oleh: Triana Rahmawati S.Sos., M.Sos.
Dosen Sosiologi FISIP UNS
TRIBUNNEWS.COM - Di tengah derasnya arus teknologi digital, keluarga Indonesia sedang mengalami perubahan besar, perlahan namun pasti.
Rumah yang dulu menjadi ruang utama berbagi cerita, kini sering kali sunyi oleh interaksi, meski penghuninya berada di tempat yang sama. Gawai menyala, notifikasi berdenting, dan percakapan antarkeluarga bergeser ke layar.
Sebagai institusi sosial paling dasar, keluarga selalu beradaptasi dengan zaman. Namun di era digital, perubahan itu terasa lebih cepat dan kompleks.
Urbanisasi, tuntutan ekonomi, serta penetrasi internet telah menggeser struktur keluarga dari pola besar yang melibatkan banyak generasi, menuju keluarga inti yang lebih kecil dan mandiri.
Data menunjukkan, keluarga nuklir kini mendominasi rumah tangga di wilayah perkotaan Indonesia. Perubahan ini bukan berarti keluarga melemah, tetapi cara keluarga bertahan hidup ikut berubah.
Perceraian, keluarga orang tua tunggal, hingga pasangan tanpa anak menjadi fenomena yang semakin terlihat. Faktor ekonomi, konflik peran, hingga pengaruh media digital turut membentuk dinamika tersebut.
Di sisi lain, fungsi keluarga sebagai ruang pengasuhan juga menghadapi tantangan baru.
Anak-anak hari ini tidak hanya belajar dari orang tua, tetapi juga dari media sosial, influencer, dan algoritma digital.
Nilai yang mereka serap sering kali datang dari dunia global yang tak selalu sejalan dengan nilai yang diajarkan di rumah.
Fenomena parental phubbing, orang tua yang sibuk dengan ponsel saat bersama anak, menjadi realitas sehari-hari.
Baca juga: Sandiaga Uno: Ibu Mandiri Secara Ekonomi jadi Kekuatan Keluarga
Banyak keluarga hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional. Tak jarang, konflik rumah tangga dipicu oleh penggunaan gawai yang berlebihan dan minimnya komunikasi hangat.
Namun, teknologi tidak selalu membawa dampak negatif. Bagi keluarga pekerja migran, media digital justru menjadi jembatan emosional.
Video call, pesan singkat, dan komunikasi daring memungkinkan orang tua tetap terlibat dalam pengasuhan, meski terpisah jarak dan negara.
Media sosial juga mengubah cara keluarga menampilkan diri. Praktik sharenting—membagikan momen anak di media sosial—menjadi ruang baru membangun identitas keluarga.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/7109512df3jpeg-20231222070929.jpeg)