BWF World Tour
Antiklimaks Raymond/Joaquin di Orleans Masters 2026: Misi Balas Dendam yang Kandas
Misi balas dendam Raymond Indra/Nikolaus Joaquin di Orleans Masters 2026 berakhir pahit, konsistensi masih dipertanyakan.
Ringkasan Berita:
- Raymond Indra/Nikolaus Joaquin gagal mewujudkan misi balas dendam setelah tersisih di babak 8 besar Orleans Masters 2026
- Inkonsistensi menjadi sorotan utama setelah pasangan ini tampil impresif sebagai semifinalis All England namun menurun di Swiss dan Prancis
- Faktor kontrol emosi, ketenangan, dan kecepatan adaptasi terhadap kondisi lapangan menjadi evaluasi utama bagi pasangan muda ini
TRIBUNNEWS.COM - Harapan untuk melihat All Indonesian Final di sektor ganda putra Orleans Masters 2026 resmi buyar, Sabtu (21/3/2026).
Ganda putra muda Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, harus mengubur mimpi mereka setelah tersingkir di babak perempat final.
Kekalahan ini terasa menyesakkan mengingat ganda putra ini mengusung misi besar untuk menebus kegagalan di turnamen sebelumnya.
Orleans Masters 2026 semula diharapkan menjadi panggung penebusan dosa bagi Raymond/Joaquin setelah hasil minor di Swiss Open 2026 pekan lalu, di mana mereka terhenti prematur di babak 32 besar.
Duet ini bertekad bangkit di Orleans. Namun kenyataanya, komitmen balas dendam gagal total setelah mereka takluk di tangan Christian Faust Kjaer/Rasmus Kjaer (Denmark).
Inkonsistensi Raymond/Joaquin
Perjalanan Raymond/Joaquin dalam tur Eropa kali ini layaknya roller coaster. Dua pekan lalu, mereka mengejutkan dunia bulu tangkis dengan melesat hingga semifinal All England 2024.
Sebagai debutan di turnamen tertua dunia tersebut, pencapaian itu adalah sinyal positif bagi masa depan ganda putra Indonesia.
Namun, menjaga standar performa di level elite ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Masalah konsistensi menjadi batu sandungan. Setelah terbang tinggi di Birmingham, grafik permainan mereka justru menukik tajam di Swiss dan kini terhenti di Prancis.
Evaluasi Mental dan Adaptasi Lapangan
Raymond menyoroti hilangnya ketenangan di poin-poin krusial, terutama saat memasuki gim penentuan.
"Puji Tuhan tetap bersyukur menjalani pertandingan dengan lancar dan tanpa cedera, walau hari ini belum diberikan kemenangan," ujar Raymond mengutip PBSI.
"Kuncinya di start gim ketiga, kami terlalu terburu-buru dan tidak tenang. Ini menjadi bahan evaluasi kami ke depan bagaimana menjaga fokus di situasi rubber game."
Baca juga: Gagal ke Semifinal Orleans Masters, Raymond/Nikolaus Akui Main Terburu-buru dan Kurang Adaptasi
Senada dengan rekannya, Nikolaus Joaquin menekankan pentingnya kontrol emosi dalam menjalani tur maraton yang melelahkan secara psikis.
"Kami harus belajar kontrol emosi. Tidak mudah menjalani tur Eropa dengan tiga turnamen beruntun ini, terutama dari segi menjaga fokus pikiran. Ini harus dikuatkan lagi," tegas Joaquin.
Kekalahan di Orleans Masters 2026 ini menjadi pelajaran mahal bagi Raymond/Joaquin.
Potensi besar yang mereka tunjukkan di All England membuktikan bahwa mereka punya kapasitas untuk bersaing dengan pemain top.
Namun, untuk menjadi pasangan yang ditakuti di BWF World Tour, bakat saja tidak cukup.
Ketangguhan mental dalam menjaga konsistensi dari satu turnamen ke turnamen berikutnya adalah syarat mutlak yang harus segera mereka penuhi.
(Tribunnews.com/Niken)