Kamis, 23 April 2026

Harga LPG Non-Subsidi Melonjak, Dedi Mulyadi Ajak Warga Kembali Manfaatkan Kayu Bakar


Dedi Mulyadi ajak warga beralih ke energi alternatif usai harga LPG nonsubsidi naik hingga Rp228 ribu.

Editor: Glery Lazuardi

Ringkasan Berita:
  • Dedi Mulyadi mengajak warga beralih ke energi alternatif seperti kayu bakar, kompor listrik, dan biogas usai harga LPG nonsubsidi naik. 
  • Ia menilai solusi lokal ini realistis dan bisa bantu masyarakat menghadapi lonjakan harga energi global.

TRIBUNNEWS.COM - Harga LPG nonsubsidi yang terus melonjak mendorong Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak masyarakat kembali memanfaatkan energi alternatif di sekitar mereka.

Ia menekankan warga desa dapat menggunakan kayu bakar, sementara di perkotaan kompor listrik dan biogas bisa menjadi solusi menghadapi kenaikan harga.

Manfaatkan Energi Alternatif

Harga liquefied petroleum gas (LPG) nonsubsidi kembali mengalami kenaikan. Tabung 12 kg kini dijual Rp228.000 atau naik sekitar 18,75 persen, sementara tabung 5,5 kg mencapai Rp107.000.

Kenaikan ini mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mendorong masyarakat untuk mulai memanfaatkan energi alternatif yang tersedia di lingkungan sekitar.

Ia menyarankan warga desa kembali menggunakan kayu bakar, sedangkan warga perkotaan dapat beralih ke kompor listrik.

Selain itu, Dedi juga menekankan pentingnya pengembangan biogas dari limbah ternak, terutama sapi. Menurutnya, biogas merupakan solusi realistis yang sudah dipraktikkan sejumlah peternak di Bandung Barat dan terbukti mampu menghasilkan api memadai untuk kebutuhan memasak sehari-hari.

“Bisa mengelola kotoran sapi jadi energi gas, bisa sampah, bisa listrik,” ujar Dedi, Selasa (21/4/2026).

Ia menilai masyarakat Jawa Barat memiliki kemampuan beradaptasi dan berinovasi menghadapi kenaikan harga LPG.

“Saya meyakini warga Indonesia ini inovatif dan cerdas,” tambahnya.

Baca juga: Dua Minggu 330 Tersangka Penyalahgunaan BBM-LPG Subsidi Diciduk, Kerugian Negara Capai Rp 243 M

Kayu Bakar, Energi Tradisional yang Masih Jadi Alternatif

Kayu bakar merupakan bahan bakar tradisional yang diperoleh dari cabang, ranting, atau limbah kayu tanpa proses selain pengeringan dan pemotongan.

Meski dianggap sebagai penyebab minor degradasi lahan setelah penebangan komersial, pelarangan pemanenan kayu bakar justru dinilai menyulitkan masyarakat miskin dan tidak menyentuh akar masalah deforestasi.

Secara umum, kayu bakar berasal dari bagian kayu yang tidak digunakan untuk konstruksi atau furnitur, karena memiliki tegangan geser rendah. Kayu ini bisa didapat dari hutan, ranting yang runtuh, atau limbah industri kayu.

Di beberapa wilayah, hutan bahkan dikelola secara lestari untuk menyediakan kayu bakar.

Sejak 1990-an, penggunaan kayu bakar menurun seiring meningkatnya konsumsi arang kayu. Namun, kayu bakar tetap menjadi pilihan masyarakat menengah ke bawah ketika harga bahan bakar lain, seperti LPG, melonjak.

Selain itu, sejumlah kuliner tradisional masih mempertahankan penggunaan kayu bakar karena diyakini memberi aroma dan rasa khas yang berbeda dibanding bahan bakar modern.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved