Sabtu, 11 April 2026

Pratama Rotan Trangsan Tembus Pasar Dunia, Berawal dari Pengrajin Rotan Rumahan

Pratama Rotan, UMKM rotan di Desa Trangsan yang menembus pasar mancanegara. UMKM ini didirkan Budi Lestari yang merupakan pengrajin rotan rumahan.

Tribunnews.com/Yunita R
PEMILIK PRATAMA ROTAN - Foto Pungky Pratama, pemilik UMKM Pratama Rotan ketika ditemui Tribunnews.com di showroom rotannya di Desa Trangsan, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Jumat (13/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Pratama Rotan adalah UMKM di Desa Trangsan, Sukoharjo, yang bergerak di bidang kerajinan furnitur rotan dan berdiri sejak tahun 1992.
  • Pratama Rotan memiliki showroom rotan di Trangsan untuk memamerkan produknya dan memberikan pengalaman real bagi calon pembeli.
  • Pemiliknya, Pungky Pratama, merupakan anak dari Budi Lestari yang meneruskan usaha Pratama Rotan sejak tahun 2018.
  • Pungky Pratama menceritakan perjalanan bisnis Pratama Rotan, dari pengrajin rumahan menjadi UMKM dengan 19 pekerja.

TRIBUNNEWS.COM - Di sepanjang jalan di desa Trangsan, Kabupaten Sukoharjo, terlihat banyak rumah penduduk yang dihiasi furnitur rotan.

Dijuluki "Desa Wisata Rotan", Trangsan menjadi rumah bagi pengrajin rotan, UMKM, hingga pabrik furnitur rotan.

Pagi itu, para karyawan Pratama Rotan, salah satu UMKM di desa Trangsan, terlihat sibuk mem-packing furnitur rotan yang akan dikirim di hari itu.

Pratama Rotan, yang didirikan sekitar tahun 1992 oleh Budi Lestari, awalnya hanyalah usaha rumahan yang berlokasi di Jl. Manau No.35, RT.001/RW.007, Kramat, Trangsan, Kec. Gatak, Kabupaten Sukoharjo

Saat itu, Budi memulai sebagai pengrajin yang membantu kakak laki-lakinya, sebelum akhirnya membangun usahanya sendiri.

"Tahun 1992 bapak (Budi Lestari) sudah menganyam, jadi pengrajin anyaman yang bagian ngiket. Dulu pakdhe yang punya kerjaannya, terus bapak membantu jadi tukang anyamnya," jelas Pungky Pratama, anak Budi Lestari yang kini meneruskan usahanya.

Sebanyak 80 persen bahan rotan yang digunakan berasal dari Sulawesi dan Kalimantan.

Bahan tersebut dikirim ke Gresik, Surabaya, untuk diolah setengah matang, lalu didistribusikan ke pengrajin untuk diproses lebih lanjut.

Memasuki tahun 2000-an, usaha Budi berkembang pesat hingga memiliki sekitar 20 karyawan yang menganyam di rumahnya. 

"Tahun 2000-an itu bapak punya banyak pekerja, sekitar 20 orang. Dulu di sini tempat menganyamnya sebelum saya jadiin ini (showroom)," ujarnya, sambil menunjuk area di rumahnya yang dulunya menjadi ruang menganyam.

Rumah tinggalnya bahkan diubah menjadi tempat produksi mebel rotan lengkap dengan area anyaman, gudang rangka, hingga finishing di lokasi yang berdekatan.

Baca juga: Eksistensi Rotan Trangsan: Kebanggaan Lokal, Reputasi Global

Pembeli dari mancanegara seperti Australia sudah menjadi langganan sejak era Budi.

Namun perjalanan usaha tak selalu mulus, karena gejolak ekonomi global membuat permintaan ekspor menurun drastis pada 2012.

Sekitar 2014, penjualan merosot hingga Budi kembali bekerja sebagai pengrajin rotan dan jumlah pekerja pun dirampingkan.

Di tahun yang sama, Pungky Pratama yang lulus dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) jurusan Psikologi, kemudian bekerja sebagai QC produk di perusahaan furnitur selama setahun.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved