Ramadan 2026
Cara Mengatur Pola Makan Sehat Usai Ramadan Menurut Ahli Gizi IPB
Kendalikan konsumsi makanan berlemak, manis, dan instan. Kebiasaan ini dapat terus dilatih, termasuk saat menjalankan puasa Syawal.
Ringkasan Berita:
- Pola makan setelah menjalani puasa Ramadan cenderung berubah dibandingkan kebiasaan sehari-hari
- Pengaturan pola makan pascapuasa dapat diterapkan dengan pendekatan yang mirip intermittent fasting, yakni membatasi asupan dari segi jumlah, jenis, dan waktu makan
- Pola ini diharapkan mampu membantu menurunkan lemak tubuh serta menekan risiko penyakit metabolik seperti diabetes
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Guru Besar Ilmu Gizi IPB University, Prof Hardinsyah, menyebut, puasa sebagai titik awal membangun pola makan sehat yang berkelanjutan.
“Puasa harus dijadikan momentum untuk melakukan detoksifikasi tubuh. Masyarakat dapat menjadikan puasa sebagai patokan pola makan ideal,” ujar Prof Hardinsyah.
Pola makan setelah menjalani puasa Ramadan cenderung berubah dibandingkan kebiasaan sehari-hari.
Pengaturan pola makan pascapuasa dapat diterapkan dengan pendekatan yang mirip intermittent fasting, yakni membatasi asupan dari segi jumlah, jenis, dan waktu makan.
Baca juga: Setahun Berjalan, Program Makan Bergizi Gratis Ubah Pola Makan Siswa
Pola ini diharapkan mampu membantu menurunkan lemak tubuh serta menekan risiko penyakit metabolik seperti diabetes.
Untuk mempertahankan pola makan ideal ini membutuhkan mindset dan tekad yang kuat.
Setelah bulan puasa, biasakan diri dengan intermittent fasting.
Dimulai dengan membiasakan sarapan pagi untuk menekan risiko kolesterol.
Selanjutnya, makan siang dapat dilewatkan atau dikurangi porsinya, disertai kebiasaan mencukupi kebutuhan air putih dan berolahraga pada sore hari.
Kendalikan konsumsi makanan berlemak, manis, dan instan.
Kebiasaan ini dapat terus dilatih, termasuk saat menjalankan puasa Syawal.
Sebagai alternatif, Prof Hardinsyah menyarankan konsumsi buah-buahan segar untuk membantu menekan keinginan mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan gula.
Buah dinilai mampu memenuhi kebutuhan energi sekaligus menyediakan serat dan vitamin.
Selain itu, pengaturan jenis dan porsi makanan juga perlu diperhatikan, dengan memperbanyak protein dibandingkan karbohidrat, menyesuaikan kebutuhan masing-masing individu, seperti anak-anak dan ibu hamil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Para-siswa-tengah-menikmati-Makan-Bergizi-Gratis-MBG-di-Kabupaten-Cilacap.jpg)