Ramadan 2026
Meraih Pahala Besar di Bulan Ramadan 1447 H dengan Kekuatan Sabar
Sabar pada hakikatnya adalah kemampuan menahan diri saat ibadah puasa Ramadan memiliki pahala yang besar Allah sudah menetapkan ada posisi yang mulia.
TRIBUNNEWS.COM - Bulan Ramadan 1447 H bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi madrasah rohani untuk membentuk pribadi yang lebih sabar dan matang secara spiritual.
Di tengah ujian fisik karena berpuasa serta tantangan emosional dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam diajak untuk memperkuat kemampuan menahan diri.
Kesabaran inilah yang menjadi salah satu kunci utama untuk meraih derajat yang lebih tinggi di sisi Allah SWT.
Ramadan menghadirkan ruang latihan yang nyata: saat dihina, saat diuji, saat kehilangan, bahkan saat keinginan hati ingin segera dilampiaskan.
Semua itu adalah kesempatan untuk memperbesar pahala melalui kekuatan sabar.
Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kota Denpasar, Drs KH Saifuddin Zaini, M.Pd.I dalam tausiyahnya di program Mutiara Ramadhan 2026 yang tayang di YouTube Tribunnews.com menyampaikan bahwa sabar pada hakikatnya adalah kemampuan menahan diri.
"Orang yang tidak mampu menahan diri disebut tidak sabar, termasuk bersikap tergesa-gesa atau dalam istilah Jawa disebut kesusu, yakni ingin segera sebelum waktunya tiba," kata Saifuddin Zaini, dikutip Rabu (4/3/2026).
Sabar juga berarti tidak bereaksi sembarangan, tidak memberikan respons tanpa perhitungan, terlebih ketika menghadapi hinaan atau perlakuan yang menyakitkan.
"Ketika seseorang dihina, reaksi spontan sering kali muncul untuk membalas. Namun justru di situlah letak ujian kesabaran."
"Dalam sebuah riwayat yang dikutip dari kitab Attajul Jami’, diceritakan bagaimana Abu Bakar RA pernah dihina berulang kali di hadapan Rasulullah SAW dan para sahabat," sambungnya.
Dalam kisah tersebut disebutkan: "Ana rajulan kana yasubu Abu Bakrin. Ada seorang laki-laki yang menghina Abu Bakar."
Baca juga: Syarat Wajib Puasa Ramadan, Lengkap dengan Rukun dan Hal yang Membatalkan
Abu Bakar tetap diam ketika dihina pertama dan kedua kali.
Namun ketika hinaan itu terjadi untuk ketiga kalinya, beliau akhirnya membalas.
"Lalu laki-laki itu menghina yang ketiga kalinya sudah dihina sampai tiga kali akhirnya ya berkitik apa itu dongkolnya itu ada," ucapnya.
Saat itulah Rasulullah SAW yang sebelumnya duduk bersama mereka memilih pergi. Abu Bakar pun bertanya: "Awajatta alaiya ya Rasulullah. Halabta alaiya. Apakah engkau marah kepadaku sehingga engkau pergi?"