Selasa, 7 April 2026

Ramadan 2026

Ramadan Hari ke-8, Menag Ingatkan Ibadah Tanpa Dampak Sosial Bisa Jadi Bumerang

Dalam suasana puasa yang sarat dengan peningkatan ibadah, ia mengingatkan adanya bahaya tersembunyi yang kerap luput dari perhatian, yakni kesombongan

Penulis: Aisyah Nursyamsi
Editor: willy Widianto
Tangkap layar YouTube KompasTV
SIDANG ISBAT – Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026), sebelum memimpin sidang isbat awal Ramadan 1447 H/2026 M. Ia menjelaskan alasan pemindahan lokasi sidang isbat dari kantor Kemenag karena proyek pembangunan di Jalan MH Thamrin. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Memasuki hari kedelapan Ramadan, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam untuk tidak sekadar menjalankan ibadah secara rutin, tetapi juga melakukan refleksi mendalam terhadap kualitas batin.

Baca juga: Ramadan Hari Ketujuh: Refleksi Menag Nasaruddin Umar tentang Jalan Panjang Menuju Ketenangan Batin

Dalam suasana Ramadan yang sarat dengan peningkatan ibadah, ia mengingatkan adanya bahaya tersembunyi yang kerap luput dari perhatian, yakni kesombongan spiritual. Dalam tulisannya berjudul 'Menghindari Skandal Spiritual', Nasaruddin menekankan bahwa dalam sejarah dunia Islam, kejatuhan bukan hanya disebabkan oleh dosa lahiriah, melainkan juga oleh penyakit batin berupa keangkuhan rohani.

Ia menuliskan bahwa dalam lintasan sejarah, skandal spiritual telah membuat makhluk “jatuh dari langit kebahagiaan ke bumi penderitaan.” Bahkan malaikat disebut jatuh karena membangkang dan merasa lebih tinggi, sementara manusia jatuh karena tak mampu menahan hawa nafsu. Pesan ini menjadi pengingat bahwa ibadah yang tidak disertai kerendahan hati dapat berubah menjadi jebakan spiritual.

Refleksi tersebut diperkuat dengan kisah yang termuat dalam kitab Ihya Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali. Dikisahkan seorang alim yang sangat tekun beribadah dan memilih mengasingkan diri demi menjaga kesucian diri. Suatu ketika, seorang perempuan yang hidup dalam dunia kelam datang untuk meminta nasihat dan ingin bertobat.

Namun sang ahli ibadah menolaknya. Ia merasa menerima perempuan tersebut akan mencemari kesuciannya. Kisah ini berujung ironi. Dalam riwayat tersebut, sang ahli ibadah justru disebut sebagai penghuni neraka, sementara perempuan yang tulus ingin bertobat dinyatakan sebagai penghuni surga.

Pesan moralnya jelas yakni kesombongan spiritual dapat menghapus nilai ibadah yang selama ini dibanggakan.

Baca juga: Ramadan saat Musibah, Menag Ingatkan Hikmah Ujian sebagai Kenaikan Kelas

Ibadah Pribadi

Menag Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kualitas keberagamaan seseorang tidak cukup diukur dari banyaknya ibadah mahdhah (ibadah ritual personal) semata.

“Riwayat ini mengingatkan kita, kriteria kualitas keberagamaan seseorang tidak diukur dari banyaknya ibadah mahdhah yang dilakukan tetapi ibadah sosial, seperti memperhatikan nasib fakir miskin dan anak yatim piatu,” ungkap Nasaruddin dalam keterangannya, Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, ibadah yang tidak menghadirkan dampak sosial justru berisiko melahirkan kesombongan terselubung. Ia menyebut fenomena ini sebagai ego spiritual.

“Ego spiritual ialah orang-orang yang terlalu mengedepankan hubungan vertikalnya dengan Tuhan tanpa mau tahu lingkungan masyarakat sekitarnya,” imbuhnya.

Sikap merasa lebih tinggi secara spiritual, memilih-milih pergaulan, hingga menghindari mereka yang dianggap “tidak selevel” dinilai sebagai bentuk keangkuhan yang berbahaya dan bertentangan dengan nilai dasar ajaran Islam.

Bekas Sujud

Dalam refleksinya, Nasaruddin juga menyinggung makna atsar al-sujud dalam Alquran. Ia menegaskan bahwa bekas sujud bukan semata-mata tanda fisik di dahi.

“Atsar sujud ialah komitmen sosial yang tinggi dimiliki seseorang sebagai bagian dari penghayatan nilai-nilai ajaran agama yang dianutnya,” jelasnya.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved