Ramadan 2026
Mau Bakar Lemak saat Puasa? Dokter Jelaskan Waktu dan Intensitas Olahraga Terbaik
dr. Risky Dwi Rahayu menyarankan olahraga intensitas sedang 30–60 menit sebelum berbuka puasa agar efektif membakar lemak tanpa merusak otot.
Ringkasan Berita:
- dr. Risky Dwi Rahayu dari RS Pondok Indah menyebut olahraga menjelang berbuka efektif membakar lemak karena cadangan gula tubuh menipis.
- Ia menyarankan intensitas sedang seperti jalan cepat atau lari ringan dengan durasi 30–60 menit agar lemak terbakar tanpa merusak otot.
- Latihan beban sebaiknya dilakukan setelah berbuka, sementara aerobik bisa sebelum berbuka dengan pengaturan intensitas yang tepat.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Banyak orang memilih berolahraga menjelang berbuka puasa dengan harapan bisa sekaligus membakar lemak secara maksimal.
Strategi ini populer selama Ramadan, namun secara medis tetap perlu dilakukan dengan cara yang tepat agar tidak justru membahayakan tubuh.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga yang berpraktik di RS Pondok Indah, Jakarta, dr. Risky Dwi Rahayu, menjelaskan bahwa olahraga menjelang berbuka memang bisa efektif membakar lemak, karena cadangan gula tubuh sudah menipis.
“Jadi memang ini menjadi salah satu strategi yang banyak digunakan oleh orang-orang untuk berolahraga gitu. Menjelang buka puasa, mumpung lemaknya, gulanya udah habis nih, jadi mungkin lemaknya ya nanti yang akan terbakar gitu sebagai sumber energi,” ujarnya pada media briefing virtual, Jumat (20/2/2026).
Menurutnya, saat menjelang berbuka, tubuh cenderung menggunakan lemak sebagai sumber energi.
Namun efektivitas pembakaran lemak sangat bergantung pada pengaturan intensitas dan durasi olahraga.
Baca juga: Anak Punya Maag, Bolehkah Berpuasa? Ini Penjelasan Dokter dan Tips Puasa bagi Penderita Maag
Intensitas Sedang Jadi Kunci Pembakaran Lemak
Risky menekankan bahwa olahraga yang dilakukan sebaiknya berada pada intensitas sedang.
Jenis latihan aerobik seperti jalan cepat, lari ringan, atau bersepeda dinilai paling efektif untuk tujuan ini.
Salah satu cara sederhana mengukur intensitas adalah melalui metode talk test.
Saat berolahraga, seseorang idealnya sudah tidak bisa bernyanyi, tetapi masih mampu mengucapkan satu kalimat panjang tanpa terengah-engah.
Jika napas sudah ngos-ngosan, itu menandakan intensitas terlalu tinggi.
Kondisi tersebut berisiko membuat tubuh tidak hanya membakar lemak, tetapi juga memecah protein dari otot.
“Tapi kalau misalkan sudah ngos-ngosan, yang dibakar bukan lemak lagi, pasti ada ototnya yang kebakar. Jadi itu justru ada resikonya,” jelasnya.
Selain talk test, teknologi seperti smartwatch juga dapat membantu memantau zona latihan.