Pilot TNI AU Ungkap Tantangan Transisi dari Jet Hawk ke Rafale Generasi 4.5
Tantangan pilot TNI AU yang biasa mengawaki jet tempur Hawk 100/200 kini harus menjinakkan kecanggihan pesawat tempur generasi 4.5
Ringkasan Berita:
- Kehadiran jet tempur Rafale di jajaran TNI AU bukan sekadar menambah jumlah alutsista.
- Para pilot yang sebelumnya terbiasa mengawaki jet tempur Hawk 100/200, kini ditantang "menjinakkan" kecanggihan pesawat tempur generasi 4.5 buatan Dassault Aviation, Prancis tersebut.
- Meskipun ada kemiripan pada sistem kendali, tetap diperlukan adaptasi yang mendalam.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kehadiran jet tempur Rafale di jajaran TNI Angkatan Udara (AU) bukan sekadar menambah jumlah alutsista, melainkan menjadi babak baru bagi para penerbang Nusantara dalam menguasai teknologi dirgantara.
Para pilot yang sebelumnya terbiasa mengawaki jet tempur Hawk 100/200, kini ditantang untuk "menjinakkan" kecanggihan pesawat tempur generasi 4.5 buatan Dassault Aviation, Prancis tersebut.
Komandan Skadron Udara (Danskadron) 12, Letkol Pnb Binggi “Rayden” Nobel, menceritakan pengalamannya dalam proses transisi dari teknologi Inggris menuju teknologi Prancis.
Ia menyebut, meskipun ada kemiripan pada sistem kendali, tetap diperlukan adaptasi yang mendalam.
"Pengalaman kami pribadi, kami mengoperasikan pesawat tipe Hawk 100 dan 200 dari BAE Inggris, dan itu pun central column," ujar Letkol Pnb Binggi saat ditemui di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).
Baca juga: Prabowo Serahkan 6 Jet Rafale dan Radar GCI ke TNI AU, Ada Prosesi Siram Air Kembang di Halim
Ia tidak menampik perpindahan dari pesawat generasi ke-3 seperti Hawk menuju Rafale yang merupakan generasi 4.5 menyisakan celah atau gap teknologi yang cukup lebar.
Saat ini, para pilot pilihan tengah berupaya keras menguasai sistem digital dan persenjataan mutakhir yang tersemat pada Rafale.
"Tentunya ada gap, dan ini sedang kami laksanakan untuk proses pembelajaran dan
pemahaman terhadap teknologi yang ada," ungkapnya.
Binggi menegaskan personel yang dikirim untuk mengawaki Rafale telah melalui seleksi ketat.
Hal ini dilakukan guna memastikan lompatan teknologi ini bisa diatasi oleh personel yang benar-benar mumpuni.
Tujuan utama dari pemahaman teknologi yang mendalam ini adalah untuk memastikan efektivitas tempur.
TNI AU menargetkan para pilot dapat mengoperasikan Rafale dengan percaya diri penuh saat menjalankan perintah kedaulatan.
"Diharapkan objektif dari pimpinan ketika kita diminta melaksanakan misi ataupun operasi tertentu, kita mengoptimalkan kemampuan pesawat ini seoptimal mungkin, sehingga tidak lagi ada keragu-raguan di dalamnya," pungkas Binggi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pilot-jet-tempur-rafael.jpg)