Jumat, 24 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Terdampak Perang di Timteng, Indonesia Bisa Kehilangan 1,68 Juta Kunjungan Wisatawan Asing

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkap dampak perang di Asia Barat terhadap sektor pariwisata di tanah air.

|
Penulis: Febri Prasetyo
Editor: Nuryanti
Tribunnews.com/DPR RI
RAPAT KERJA - Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menjelaskan dampak perang di Timur Tengah dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI dengan Menteri Pariwisata di Jakarta, Rabu, (1/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Sektor pariwisata di Indonesia terdampak oleh perang yang terjadi di Asia Barat.
  • Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan ada 770 penerbangan dari Indonesia ke luar negeri dan sebaliknya yang telah dibatalkan.
  • Jika kondisi ini berlangsung hingga akhir tahun, Indonesia terancam kehilangan potensi devisa puluhan triliun.

 

TRIBUNNEWS.COMMenteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengungkap dampak perang di Asia Barat terhadap sektor pariwisata di Tanah Air.

Perang di Asia Barat meletus pada 28 Februari 2026 setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran. Perang masih berkobar hingga saat ini sehingga sudah berlangsung lebih dari sebulan.

Akibat perang itu, ada sejumlah penerbangan dari Asia Barat ke Indonesia yang terdampak.

“Dalam periode 29 hari dari 28 Februari hingga 28 Maret 2026, terdapat enam titik asal penerbangan yang terdampak, yaitu Abu Dhabi, Doha, Dubai, Jeddah, Madinah, dan Muscat,” ucap Widiyanti dalam rapat kerja Komisi VII DPR RI dengan Menteri Pariwisata di Jakarta, Rabu, (1/4/2026).

Widiyanti berkata sudah ada pembatalan 770 penerbangan dari/ke 6 asal penerbangan tersebut ke/dari Jakarta, Denpasar, dan Medan. Adapun potensi hilangnya kunjungan wisatawan asing mencapai 60.752 kunjungan.

“Rp2,04 triliun potensi devisa tidak terealisasi,” ungkapnya.

Dia mengklaim apabila kondisi buruk di Asia Barat berlangsung hingga akhir tahun, Indonesia diperkirakan kehilangan 1,44 juta hingga 1,68 juta kunjungan wisatawan mancanegara.

Sementara itu, potensi devisa yang tidak terealisasi bisa mencapai 48,3 triliun hingga 56,5 triliun.

Menurut Widiyanti, konflik di Asia Barat juga menyebabkan melambungnya harga minyak dunia sehingga mengerek biaya transportasi.

“Kenaikan biaya perjalanan ini berpotensi menekan permintaan perjalanan wisata, baik domestik maupun internasional. Saat ini harga minyak mentah meningkat menjadi 52,21 persen dari 67,02 dolar AS per barel (sebelum konflik) menjadi 102,01 dolar AS per barel pada 30 Maret 2026,” kata dia.

Baca juga: Wamenpar Klaim Pungli di Destinasi Wisata Turun Selama Libur Lebaran

Widiyanti menyampaikan kenaikan di atas telah direspons oleh para pelaku industri dengan cara menyesuaikan tarif transportasi feri rute Singapura-Batam yang menjadi salah satu pintu masuk utama wisatawan mancanegara dari Singapura.

Sementara itu, maskapai penerbangan mulai mengenakan fuel surcharge atau tambahan biaya akibat melambungnya harga minyak. Maskapai itu salah satunya Air India yang banyak mengangkut wisman ke Indonesia.

“Cathay Pacific sebagai maskapai hub non-Timur Tengah juga penting untuk konektivitas global, menaikkan fuel surcharge sebesar 105 persen.”

Di tengah tantangan besar ini, Widiyanti berkata Kemenpar tetap berkomitmen mencapai target 16 hingga 17,6 juta kunjungan wisman pada tahun 2026.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved