Kamis, 9 April 2026

CELIOS Bongkar Status Ormat Technologies di Balik Investasi Geotermal RI: Perusahaan Asal Israel

Bhima menegaskan bahwa Ormat tetap merupakan perusahaan asal Israel, meski tercatat di bursa saham Amerika Serikat.

Penulis: Chaerul Umam
istimewa
ILUSTRASI PROYEK GEOTERMAL - Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira, membongkar status Ormat Technologies yang terlibat dalam sejumlah proyek geotermal di Indonesia. Bhima menegaskan bahwa Ormat tetap merupakan perusahaan asal Israel, meski tercatat di bursa saham Amerika Serikat. 

Ringkasan Berita:
  • Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira, membongkar status Ormat Technologies yang terlibat dalam sejumlah proyek geotermal di Indonesia.
  • Bhima menegaskan bahwa Ormat tetap merupakan perusahaan asal Israel, meski tercatat di bursa saham Amerika Serikat.
  • Menurutnya, status perusahaan tidak berubah hanya karena telah melantai di New York Stock Exchange sejak 2004. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira, membongkar status Ormat Technologies yang terlibat dalam sejumlah proyek geotermal di Indonesia.

Ormat Technologies adalah perusahaan energi terbarukan yang dikenal sebagai salah satu pemimpin global dalam teknologi panas bumi (geothermal), energi terbarukan, dan solusi penyimpanan energi.

Baca juga: Soroti Dampak Perang AS-Israel ke Iran, Pengamat Minta Prabowo hingga Purbaya Punya Sense of Crisis

Perusahaan ini berdiri sejak 1965 dan kini mengoperasikan portofolio pembangkit listrik sekitar 1,7 GW di berbagai negara. 

Bhima menegaskan bahwa Ormat tetap merupakan perusahaan asal Israel, meski tercatat di bursa saham Amerika Serikat.

Baca juga: Gencatan Senjata Gaza Kian Rapuh, 6 Warga Palestina Tewas dalam Serangan Israel di Khan Yunis

Hal itu disampaikannya dalam diskusi BDS (Boikot, Divestasi, dan Sanksi) bertajuk "Ketika Solidaritas Diuji: Board of Peace, Investasi Global, dan Konsistensi Sikap Indonesia terhadap Palestina", secara daring pada Minggu (29/3/2026) malam.

“Ormat Teknologi ini adalah perusahaan dari Israel yang coba dipelintir seolah-olah bukan perusahaan dari Israel. Padahal dia berdiri tahun 1965 di Yavne dan tercatat di Bursa Efek Tel Aviv,” ungkap Bhima.

Menurutnya, status perusahaan tidak berubah hanya karena telah melantai di New York Stock Exchange sejak 2004. 

“Kalau Telkom Indonesia sahamnya tercatat di New York, apakah dia bukan lagi BUMN milik Indonesia? Tentu tidak. Jadi Ormat tetap perusahaan Israel,” ucapnya.

Geotermal Dinilai Keliru Diposisikan

Dalam kesempatan itu, Bhima juga mengkritik kuat narasi yang menyebut energi panas bumi sebagai energi terbarukan dan bersih.

“Panas bumi ini dipersepsikan sebagai energi terbarukan, padahal geothermal ini rezimnya adalah rezim pertambangan. Dia menambang untuk mendapatkan panas,” katanya.

Ia menilai, secara substansi, geotermal tetap merupakan energi ekstraktif.

“Geotermal itu bukan opsi energi terbarukan, dia energi yang sifatnya masuk dalam rezim ekstraktif sebenarnya,” ujarnya.

Bhima bahkan menyebut arah pengembangan teknologi energi tersebut keliru. 

“Jadi teknologinya saja salah yang dikembangkan,” ucapnya.

Baca juga: Houthi Bergabung dalam Perang Iran, Israel Kini Bertempur di Tiga Sisi

Ekspor Israel Naik

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved