Selasa, 7 April 2026

Anggaran Riset Rp12 Triliun, Kemendiktisaintek Perkuat Hilirisasi dan Swasembada Energi

Sumber problem statement tidak lagi terbatas pada perguruan tinggi, tetapi juga berasal dari industri, BUMN, serta Dewan Energi Nasional (DEN).

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
HO/IST/Istimewa/HO
ILUSTRASI RISET -  Penguatan agenda hilirisasi dan swasembada energi nasional kini mendapat dukungan arsitektur riset berbasis problem statement yang disiapkan pemerintah. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) membuka ruang kolaborasi strategis dengan Dewan Energi Nasional (DEN) serta pelaku industri, dengan menempatkan MIND ID sebagai salah satu mitra kunci. 
Ringkasan Berita:
  • Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memperkuat hilirisasi mineral dan swasembada energi lewat arsitektur riset berbasis problem statement yang melibatkan industri dan DEN
  • Anggaran riset 2025 naik menjadi Rp12 triliun guna mempercepat penguasaan teknologi sektor strategis
  • Kolaborasi dengan MIND ID diharapkan memperkuat rantai pasok dan kemandirian industri nasional.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menegaskan komitmennya memperkuat hilirisasi mineral dan swasembada energi melalui pembenahan arsitektur riset nasional berbasis problem statement

Pendekatan ini menandai pergeseran paradigma riset dari sekadar berbasis topik akademik menjadi riset yang menjawab kebutuhan riil industri dan kepentingan strategis negara.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Aziman, mengatakan arah kebijakan riset kini disusun dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. 

Sumber problem statement tidak lagi terbatas pada perguruan tinggi, tetapi juga berasal dari industri, BUMN, serta Dewan Energi Nasional (DEN).

“Kami ingin penelitian berbasis pemecahan masalah. Apa yang menjadi perhatian DEN dan industri seperti MIND ID, itulah yang kami dorong menjadi fokus penelitian,” ujar Fauzan.

Untuk mempercepat transformasi tersebut, anggaran riset nasional pada 2025 dinaikkan signifikan dari Rp8 triliun menjadi Rp12 triliun. 

Tambahan anggaran ini difokuskan pada penguasaan teknologi di sektor strategis, terutama hilirisasi mineral dan ketahanan energi.

Fauzan menekankan bahwa tanpa penguasaan teknologi, Indonesia berisiko terus berada dalam posisi eksportir bahan mentah dan bergantung pada teknologi impor. 

Karena itu, kolaborasi erat antara pemerintah, kampus, dan industri dinilai menjadi kunci.

Dalam konteks ini, MIND ID dipandang memegang peran sentral karena mengonsolidasikan sejumlah entitas tambang besar nasional, seperti PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Freeport Indonesia, PT Indonesia Asahan Aluminium, PT Timah Tbk, serta PT Vale Indonesia Tbk. Konsolidasi tersebut dinilai dapat memperkuat orkestrasi hilirisasi sekaligus menjamin rantai pasok energi nasional.

Baca juga: AETI Dorong Pembentukan Industri Offtaker Domestik untuk Perkuat Hilirisasi Timah

Selain fokus pada riset teknologi, Kemendiktisaintek juga mendorong integrasi pengembangan sumber daya manusia (SDM) agar mampu beradaptasi terhadap disrupsi teknologi global.

Penguatan teknologi dan peningkatan kualitas SDM ditargetkan berjalan simultan guna menopang kemandirian industri energi dan mineral nasional.

Melalui sinergi ini, pemerintah berharap agenda hilirisasi tidak hanya bertumpu pada investasi fisik, tetapi juga ditopang oleh inovasi, riset aplikatif, dan penguasaan teknologi dalam negeri yang berkelanjutan.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved