Konflik Rusia Vs Ukraina
Uni Eropa Usulkan Sanksi ke-21 untuk Rusia, Larang Eks Kombatan Masuk Negara UE
Uni Eropa mempresentasikan paket sanksi ke-21 untuk Rusia, termasuk melarang eks kombatan Rusia masuk negara anggota Uni Eropa.
Ringkasan Berita:
- Uni Eropa mengusulkan paket sanksi ke-21 terhadap Rusia pada 9 Juni yang menargetkan sektor energi, keuangan/kripto, perdagangan, dan perikanan.
- Langkah energi mencakup pengetatan batas harga minyak, penambahan 30 kapal armada bayangan, penargetan infrastruktur, serta pembatasan LNG.
- Di sektor keuangan dan perdagangan, sanksi meluas ke bank, aset kripto, larangan ekspor teknologi militer, serta pembatasan impor termasuk logam dan ikan seperti kod.
TRIBUNNEWS.COM - Komisi Eropa resmi mengusulkan paket sanksi ke-21 terhadap Rusia yang diumumkan pada 9 Juni.
Paket ini menjadi salah satu langkah terbaru Uni Eropa dalam menekan kemampuan ekonomi Rusia di tengah konflik yang masih berlangsung dengan Ukraina, dengan fokus utama pada sektor energi, keuangan, perdagangan, hingga kebijakan baru terkait individu yang terlibat perang.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menegaskan bahwa sanksi kali ini diarahkan pada sektor-sektor strategis yang dianggap paling berpengaruh terhadap pendapatan Rusia.
“Hari ini kami mengajukan paket sanksi ke-21. Kami fokus pada sektor-sektor yang terkena dampak paling besar, yaitu energi, jasa keuangan dan kripto, perdagangan, dan kali ini untuk pertama kalinya termasuk perikanan,” ujar Ursula von der Leyen, Selasa (9/6/2026).
Dalam sektor energi, Uni Eropa berupaya memperketat pembatasan pendapatan minyak Rusia, termasuk mekanisme penyesuaian batas harga minyak yang ditunda hingga Januari tahun depan untuk menjaga stabilitas pasar sekaligus tetap menekan pendapatan Rusia.
Selain itu, Uni Eropa juga menargetkan armada bayangan Rusia dengan menambahkan 30 kapal baru ke dalam daftar sanksi, melengkapi ratusan kapal yang telah lebih dulu dibatasi.
Von der Leyen juga menjelaskan bahwa langkah baru ini mencakup penargetan infrastruktur penting seperti pelabuhan, bandara, kilang minyak, serta aktivitas perdagangan dan pengolahan minyak Rusia.
Uni Eropa turut memperketat aturan di sektor energi dengan membatasi penjualan kapal tanker LNG ke Rusia.
Untuk pertama kalinya, Uni Eropa juga mempertimbangkan larangan total layanan aset kripto yang melibatkan negara ketiga.
Menurut von der Leyen, Uni Eropa memperluas larangan transaksi ke 31 bank Rusia lainnya dan 20 bank, perusahaan atau platform mata uang kripto, serta pedagang minyak di negara ketiga yang menyediakan layanan kepada entitas hukum dan individu Rusia yang dikenai sanksi atau menghindari tindakan pembatasan Uni Eropa, seperti diberitakan Suspilne.
Baca juga: Zelenskyy Menelepon Utusan Trump, Sebut AS dan Eropa Siap Bantu Diplomasi dengan Rusia
Larangan Ekspor
Sementara itu, di bidang perdagangan, Uni Eropa memperluas larangan ekspor terhadap logam, paduan, serta teknologi yang digunakan dalam industri militer Rusia, termasuk peralatan pendukung drone dan sistem pengacauan.
Uni Eropa juga mengusulkan larangan impor barang tertentu senilai sekitar €60 juta, termasuk logam, bijih, dan suku cadang kendaraan.
Untuk sektor perikanan, ini menjadi kali pertama Uni Eropa memasukkan pembatasan impor produk ikan tertentu, termasuk ikan kod, sebagai bagian dari tekanan ekonomi tambahan terhadap Rusia.
Selain tekanan ekonomi, Uni Eropa juga mengusulkan kebijakan baru di bidang mobilitas, yakni larangan masuk bagi individu yang pernah bertugas di Angkatan Bersenjata Rusia sejak awal perang.
“Untuk pertama kalinya, kami mengusulkan larangan masuk ke Uni Eropa bagi siapa pun yang pernah bertugas di Angkatan Bersenjata Rusia sejak awal perang,” tegas von der Leyen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Presiden-Komisi-Eropa-Ursula-von-der-Leyen-34T423T.jpg)