Jumat, 5 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Industri Minyak Peringatkan Trump: Krisis Selat Hormuz Bisa Picu Lonjakan Harga Energi Global

Industri minyak memperingatkan bahwa cadangan energi global terus menipis akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah

Tayang:
Editor: Tiara Shelavie
Tribunnews.com/Tangkap Layar/Khaberni
KRISIS ENERGI - Tangkap layar Khbenr, Jumat (1/5/2026) yang menunjukkan gambar ilustrasi produk minyak Iran. Industri minyak memperingatkan bahwa cadangan energi global terus menipis akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah 

Ringkasan Berita:
  • Industri minyak memperingatkan bahwa cadangan energi global terus menipis akibat terganggunya pasokan dari Timur Tengah dan penutupan efektif Selat Hormuz selama beberapa bulan terakhir. 
  • Sejumlah eksekutif energi dan analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga 150–160 dolar AS per barel jika persediaan mencapai tingkat kritis. 
  • Gedung Putih menyatakan pasokan AS masih aman

 

TRIBUNNEWS.COM - Industri minyak memperingatkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump bahwa kekurangan pasokan di pasar minyak dunia yang setara dengan hilangnya aliran minyak melalui Selat Hormuz terus menguras cadangan hingga ke tingkat yang berpotensi memicu lonjakan harga energi global dalam beberapa minggu ke depan, menurut empat eksekutif industri.

Mengutip POLITICO, para eksekutif energi telah menyampaikan kekhawatiran tersebut kepada pejabat senior Gedung Putih dan anggota kabinet dalam beberapa pekan terakhir sebagai bagian dari dialog rutin antara pemerintahan Trump dan sektor energi AS.

Menurut mereka, peringatan terbaru disampaikan pada akhir bulan lalu ketika data dari Administrasi Informasi Energi AS (EIA) dan sumber lainnya mulai menunjukkan bahwa produsen bahan bakar semakin bergantung pada cadangan minyak dan bahan bakar yang tersimpan untuk menggantikan pasokan yang tidak lagi datang dari Timur Tengah.

"Kita sudah berada pada tingkat yang sangat berbahaya," kata seorang eksekutif industri yang meminta identitasnya dirahasiakan karena membahas percakapan pribadi dengan pemerintah.

"Kami telah menyampaikan kekhawatiran itu kepada tingkat pemerintahan tertinggi mengenai apa yang mungkin terjadi pada pertengahan hingga akhir Juni. Saya berharap mereka memperhatikan tingkat persediaan saat ini. Tangki penyimpanan mulai mendekati batas minimum."

Baca juga: Senat AS Mulai Resah, Cecar Marco Rubio Soal Sanksi Iran dan Selat Hormuz

Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer tiga bulan lalu, memicu gangguan terbesar dalam arus perdagangan minyak mentah global yang pernah terjadi.

Negara-negara di seluruh dunia terus menguras cadangan minyak dan bahan bakar untuk menutupi kekurangan pasokan dari Timur Tengah. Namun kini persediaan mulai menipis dan sejumlah perusahaan serta analis pasar memperingatkan bahwa lonjakan harga dapat terjadi dalam waktu dekat.

Sebagian percakapan dengan pemerintah berupa peringatan umum, sementara yang lain berfokus pada kekurangan jenis bahan bakar tertentu di wilayah tertentu, seperti bahan bakar jet di Pantai Barat Amerika Serikat, kata sumber lain yang terlibat dalam diskusi tersebut.

Namun seorang pejabat Gedung Putih membantah bahwa pejabat senior pemerintah telah menerima peringatan khusus mengenai tingkat persediaan.

"Narasi dari sumber anonim itu tidak benar," katanya.

Pejabat Departemen Energi AS juga mengatakan bahwa meskipun lembaga tersebut terus berdialog dengan para pemimpin industri energi, tidak ada diskusi khusus mengenai masalah persediaan seperti yang disebutkan.

Sementara itu, eksekutif dari perusahaan minyak besar seperti Exxon Mobil dan Chevron mulai menyampaikan kekhawatiran mereka secara terbuka. Mereka memperingatkan bahwa harga bahan bakar dapat melonjak jika persediaan terus menyusut dengan cepat.

Harga rata-rata bensin di Amerika Serikat tercatat mencapai 4,26 dolar AS per galon pada Rabu, menurut AAA, atau sekitar 1,28 dolar lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik dimulai.

Wakil Presiden Senior Exxon, Neil Chapman, mengatakan dalam konferensi investor pekan lalu bahwa harga minyak Brent dapat mencapai 150 hingga 160 dolar AS per barel apabila tren penurunan persediaan terus berlanjut.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved