Sabtu, 25 April 2026

Stok Rudal AS Menyusut Imbas Pengalihan Senjata ke Timur Tengah

Pemindahan besar-besaran rudal presisi ke Timur Tengah membuat persediaan militer Amerika Serikat menipis

Foto Wikipedia
RUDAL AS - ASM-135 ASAT adalah rudal anti-satelit multi-tahap yang diluncurkan oleh pesawat yang diproduksi di Amerika Serikat. Pemindahan besar-besaran rudal presisi ke Timur Tengah membuat persediaan militer Amerika Serikat menipis 

 

Ringkasan Berita:
  • AS telah menggunakan sekitar 1.100 rudal sejak konflik Timur Tengah dimulai.
  • Stok rudal penting seperti Tomahawk dan Patriot menipis akibat pengalihan dari Asia dan Eropa.
  • Pemulihan persediaan diperkirakan memakan waktu bertahun-tahun dan memicu kekhawatiran kesiapan militer global.

 

TRIBUNNEWA.COM - Persediaan rudal militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan mengalami tekanan signifikan setelah pengalihan senjata dari kawasan Asia dan Eropa ke Timur Tengah sejak pecahnya konflik pada 28 Februari.

Laporan media AS menyebutkan para komandan militer mulai mengkhawatirkan dampak strategis dari langkah tersebut.

Harian The New York Times melaporkan bahwa sekitar 1.100 rudal jelajah siluman jarak jauh telah digunakan dalam konflik.

Padahal sebelumnya disiapkan sebagai cadangan untuk potensi operasi menghadapi China.

Perkiraan internal dari Departemen Pertahanan AS dan pejabat kongres menunjukkan bahwa penipisan stok mencakup lebih dari 1.000 rudal penting, mengutip Al Jazeera, Jumat (24/4/2026).

Baca juga: Kapal Kargo Iran Berhasil Lewati Laut Oman usai Dikabarkan Disita AS, Dikawal Ketat IRGC

Termasuk Tomahawk, sistem pencegat Patriot, serta rudal darat Precision Strike dan ATACMS.

Untuk memenuhi kebutuhan operasi di Timur Tengah, militer AS telah memindahkan amunisi dari pangkalan di Asia Pasifik dan Eropa.

Langkah ini memunculkan kekhawatiran baru terkait kesiapan pertahanan di kedua kawasan tersebut jika terjadi eskalasi konflik.

Selain itu, laporan tersebut menyoroti ketergantungan tinggi militer AS terhadap rudal berteknologi tinggi yang mahal.

Serta mempertanyakan kemampuan industri pertahanan dalam meningkatkan produksi secara cepat.

Departemen Pertahanan memperingatkan bahwa diperlukan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan kembali persediaan senjata ke tingkat semula.

(*)

 

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved