Minggu, 12 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Pakar HI Prediksi Supremasi AS Mulai Runtuh Perlahan usai Perangi Iran

Konflik Iran melawan Israel dan Amerika Serikat dinilai membuka tanda-tanda melemahnya dominasi global Washington.

HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni
KERAHKAN MARINIR - Gambar tangkap layar khbern, Senin (16/3/2026) yang menunjukkan ilustrasi pasukan Amerika Serikat (AS) memasuki pesawat angkut militer saat dikerahkan untuk bertugas. Amerika Serikat dilaporkan sudah mengirimkan kelompok penyerang amfibi yang sangat terlatih dan unit pengintai Korps Marinir ke Timur Tengah di tengah peperangan melawan Iran. Konflik Iran melawan Israel dan Amerika Serikat dinilai membuka tanda-tanda melemahnya dominasi global Washington. 

Ringkasan Berita:
  • Supremasi global Amerika Serikat dinilai mulai runtuh, terlihat dari konflik Iran vs Israel-AS serta sikap yang dianggap tidak menghormati hukum internasional dan PBB.
  • Gugurnya 3 TNI dalam misi UNIFIL disebut jadi momentum bagi Indonesia untuk mengevaluasi bahkan keluar dari keanggotaan BOP.
  • Indonesia didorong memperkuat politik luar negeri dan hubungan diplomatik di Timur Tengah agar mampu berperan lebih strategis di konflik global.

TRIBUNNEWS.COM - Pakar Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahmad Sahide menilai supremasi politik global Amerika Serikat mulai runtuh secara perlahan, terutama terlihat dalam konflik Iran melawan Israel dan Amerika.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) makna kata supremasi adalah kekuasaan tertinggi (teratas).

“Saya membaca di perang Iran Vs Israel-Amerika Serikat itu saya sudah membaca dalam perang ini runtuhnya secara perlahan supremasi politik global Amerika dari perang ini,” ujarnya kepada Tribunnews, dalam acara diskusi Overview Tribunnews, Rabu (1/4/2026) lalu.

Ia menilai agresivitas Israel tidak lepas dari dukungan Amerika Serikat.

“Dia (Israel-AS) tidak menghormati hukum internasional, tidak menghormati marwah PBB sebagai lembaga internasional,” tegas Sahide.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan adanya indikasi kuat dominasi global Amerika mulai melemah dan telah banyak dikaji oleh berbagai pihak.

Ahmad menambahkan, situasi ini harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperbaiki arah politik luar negeri.

“Ini momentum saya kira untuk mengembalikan marwah politik luar negeri Indonesia yang kemarin seolah-olah diinjak-injak dengan bergabungnya kita dalam Board Of Peace (BOP),” katanya.

Selain itu, ia menegaskan perlunya langkah politik untuk menghadapi dominasi global.

“Memang perlu ada gerakan-gerakan politik untuk melemahkan Israel dan Amerika Serikat,” tambahnya.

Indonesia Disebut Harus Keluar dari BOP

Baca juga: Iran Tembak dan Hancurkan Jet Tempur Siluman F-35 AS, Disebut untuk Pertama Kalinya

Ahmad Sahide, juga menambahkan, insiden gugurnya tiga anggota TNI dalam misi UNIFIL di Lebanon akibat serangan Israel seharusnya menjadi titik balik kebijakan luar negeri Indonesia.

Termasuk soal keanggotaan Indonesia di BOP, badan internasional bentukan Donald Trump yang didukung Resolusi Dewan Keamanan PBB.

Seperti diketahui 3 anggota TNI yakni Praka Farizal Romadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur dalam misi pemeliharaan perdamaian PBB UNIFIL di Lebanon.

Praka Farizal Romadhon meninggal pada Minggu (29/3/2026) dalam usia 28 tahun.

Ia gugur ketika sebuah proyektil artileri meledak di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr yang juga menyebabkan seorang prajurit TNI penjaga perdamaian terluka parah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved