Rabu, 8 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Saudi Aramco Pangkas Pasokan Minyak ke Asia pada April 2026

Pengurangan suplai oleh Saudi Aramco ke Asia pada April memicu kekhawatiran baru di pasar energi, seiring konflik di sekitar Selat Hormuz .

Tribunnews.com/(Tangkap layar Akun X @AngelMartmma24)
KILANG MINYAK SAUDI - Aramco, Kilang minyak terbesar di Arab Saudi kebakaran. Dilaporkan terkena serangan drone Iran. Pengurangan suplai oleh Saudi Aramco ke Asia pada April memicu kekhawatiran baru di pasar energi, seiring konflik di sekitar Selat Hormuz . (Tangkap layar Akun X @AngelMartmma24) 

 

Ringkasan Berita:
  • Saudi Aramco mengurangi pasokan minyak ke Asia akibat gangguan jalur perdagangan dan konflik di Selat Hormuz.
  • Harga minyak melonjak lebih dari 50 persen, mendekati $160 per barel karena tekanan pasokan global.
  • Risiko krisis ekonomi global meningkat seiring konflik berkepanjangan dan terganggunya rantai energi dunia.

 

TRIBUNNEWS.COM - Saudi Aramco, eksportir minyak terbesar dunia, dilaporkan mengurangi pasokan minyak mentah ke pembeli di Asia untuk pengiriman bulan April 2026. 

Pengurangan pasokan ke Asia ini lantaran gangguan yang berkaitan dengan eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.

Konflik AS-Israel Vs Iran berdampak langsung pada lalu lintas maritim di Selat Hormuz.

Diketahui Selat Hormuz jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global.

Keputusan ini diambil di tengah gangguan jalur perdagangan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Menurut sumber yang dikutip Reuters, Aramco hanya memasok minyak mentah jenis Arab Light yang dikirim melalui pelabuhan Yanbu kepada pelanggan jangka panjang.

Baca juga: Trump Ancam Hancurkan Pembangkit Listrik Iran Jika Tak Buka Selat Hormuz dalam 48 Jam

Pelabuhan yang terletak di Laut Merah ini menjadi jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz, yang saat ini berada dalam kondisi tidak stabil.

Ketidakpastian di kawasan tersebut memukul negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari Teluk.

Kilang-kilang di Asia kini menghadapi tekanan akibat terbatasnya pasokan.

Dan memaksa mereka untuk meninjau ulang strategi pengadaan, termasuk diversifikasi sumber energi dan penyesuaian volume pembelian. 

Sementara itu, durasi gangguan masih belum dapat dipastikan.

Dalam perkembangan terkait, laporan Financial Times memperingatkan bahwa konflik yang terus berlangsung berpotensi berkembang menjadi krisis ekonomi global.

Harga minyak telah melonjak lebih dari 50 persen sejak konflik memanas, dengan beberapa acuan minyak Timur Tengah mendekati 160 dolar AS per barel.

Jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut, analis memperkirakan dampaknya bisa melampaui krisis energi besar sebelumnya.

Termasuk yang terjadi pada 1973 dan Revolusi Iran.

(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved