Iran Vs Amerika Memanas
Iran Tutup Pintu Damai, Siap Hajar AS-Israel Tanpa Kompromi
Iran tutup pintu damai, konflik kian memanas! Serangan meluas, Selat Hormuz terganggu, harga minyak melonjak dan dunia terancam krisis energi global.
Ringkasan Berita:
- Abbas Araghchi menegaskan Iran menolak gencatan senjata dan menyalahkan AS sebagai pemicu perang, serta ingin konflik berakhir permanen.
- Tewasnya Ali Larijani memicu serangan balasan Iran ke negara Teluk hingga Tel Aviv, menandai konflik melebar ke kawasan.
- Gangguan di Selat Hormuz menghambat distribusi minyak dunia, picu lonjakan harga energi, dan ancam krisis ekonomi global.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin meningkat setelah pemerintah Iran secara tegas menolak perundingan gencatan senjata.
Sikap ini memperlihatkan bahwa konflik yang telah berlangsung hampir tiga pekan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda, bahkan justru berpotensi meluas ke kawasan yang lebih luas.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa negaranya tidak akan terlibat dalam negosiasi gencatan senjata karena menganggap Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh atas pecahnya perang.
"Kami tidak pernah meminta gencatan senjata, dan kami bahkan tidak pernah meminta negosiasi," kata Araghchi dalam wawancara dengan program Face the Nation di jaringan CBS AS, dikutip Tribunnews.com, Kamis (19/3/2026).
Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak memulai konflik tersebut, melainkan hanya merespons agresi yang terjadi.
Menurut Araghchi, tujuan Iran bukan sekadar menghentikan konflik sementara, tetapi mengakhiri perang secara permanen.
Pernyataan ini sekaligus membantah klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sebelumnya menyebut Iran siap membuka ruang negosiasi untuk menghentikan pertempuran.
Adapun penolakan Iran terhadap gencatan senjata bukan tanpa alasan.
Secara strategis, Iran ingin memastikan bahwa konflik ini tidak hanya berhenti sementara, tetapi benar-benar berakhir tanpa membuka peluang perang baru di masa depan.
Selain itu, dengan menyalahkan Amerika Serikat sebagai pihak utama, Iran berupaya membangun narasi internasional bahwa mereka berada di posisi defensif, bukan agresor.
Di sisi lain, eskalasi serangan dan perluasan target menunjukkan bahwa konflik ini telah melampaui batas bilateral dan berpotensi menjadi krisis regional bahkan global.
Baca juga: Iran Tetap Kuat di Selat Hormuz, Trump Mau Kerahkan Ribuan Pasukan Amerika ke Timur Tengah
Eskalasi Konflik: Serangan dan Balasan Terus Berlanjut
Sikap keras diberlakukan Iran usai pemerintah Teheran mengonfirmasi tewasnya pejabat tinggi keamanan, Ali Larijani, dalam serangan yang diduga dilakukan Israel.
Selain Larijani, beberapa tokoh penting lainnya juga dilaporkan tewas, termasuk komandan milisi Basij dan Menteri Intelijen Iran.
Iran menilai serangan terhadap pejabat tinggi tersebut sebagai bentuk eskalasi serius yang tidak bisa dibiarkan. Sebagai respons, militer Iran bersumpah akan melakukan pembalasan.
Tak lama setelah itu, Iran melancarkan serangan ke sejumlah negara di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab, serta serangan langsung ke Tel Aviv.