Iran Vs Amerika Memanas
Iran–AS Kembali Berunding di Jenewa, Nuklir dan Sanksi Jadi Agenda Utama Araghchi
Iran dan AS berunding di Jenewa. Araghchi membawa isu nuklir, pengawasan IAEA, dan tuntutan pelonggaran sanksi di tengah meningkatnya ketegangan.
Ringkasan Berita:
- Menlu Iran Abbas Araghchi tiba di Jenewa untuk negosiasi nuklir putaran kedua dengan AS guna meredakan ketegangan.
- Fokus pembicaraan mencakup batas pengayaan uranium, pengawasan IAEA, dan pencabutan sanksi, namun Iran menolak menghentikan pengayaan sepenuhnya dan menegaskan program rudal tidak bisa dinegosiasikan.
- Perbedaan sikap dan tekanan politik-militer AS menjadi hambatan, sementara hasil negosiasi akan menentukan apakah ketegangan kawasan mereda atau justru meningkat.
TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan tiba di Jenewa, Swiss, untuk mengikuti putaran kedua pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat (AS) pada Senin (16/2/2026).
Setibanya di Jenewa, Araghchi menegaskan bahwa Iran datang dengan pendekatan serius dan konstruktif.
Melalui pernyataannya di media sosial, ia menyebut Teheran membawa gagasan nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil dan seimbang.
Namun, ia juga menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tekanan atau ancaman dalam proses negosiasi tersebut.
Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya diplomatik terbaru kedua negara untuk meredakan ketegangan yang meningkat setelah AS memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah, termasuk mengirimkan kapal induk tambahan.
Putaran kedua negosiasi di Jenewa diharapkan dapat membuka ruang dialog yang lebih luas, terutama terkait pembatasan program nuklir Iran, mekanisme pengawasan internasional, serta kemungkinan pelonggaran sanksi.
Nuklir Iran Jadi Fokus Utama
Adapun pertemuan antara Iran dan AS di Jenewa diperkirakan akan membahas sejumlah isu strategis yang menjadi inti ketegangan kedua negara selama beberapa tahun terakhir, terutama terkait masa depan program nuklir Teheran dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
Dalam perundingan tersebut, fokus utama kemungkinan tertuju pada batasan aktivitas pengayaan uranium Iran.
Washington mendorong pembatasan ketat agar program nuklir Iran tidak berkembang menuju kemampuan senjata nuklir.
Sementara itu, Teheran bersikeras bahwa pengayaan merupakan haknya untuk kepentingan energi damai dan tidak akan dihentikan sepenuhnya.
Baca juga: Perundingan Nuklir Putaran Kedua Iran-AS Segera Dimulai, Diplomasi di Bawah Tekanan Militer
Isu tingkat pengayaan, jumlah stok uranium, serta pengoperasian fasilitas nuklir menjadi bagian penting yang dibahas dalam upaya mencari titik kompromi.
Selain itu, akses dan pengawasan oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga menjadi agenda krusial.
Komunitas internasional menuntut transparansi lebih besar melalui inspeksi fasilitas nuklir Iran guna memastikan tidak ada aktivitas militer tersembunyi.
Di sisi lain, Iran mengaitkan tingkat kerja samanya dengan jaminan keamanan serta pengakuan atas hak program nuklir sipilnya.
Pembahasan juga diperkirakan mencakup kemungkinan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran.