Lebih dari 5.000 Titik Api Muncul di Gambut Meski di Indonesia Masih Musim Hujan
Ketika sebagian wilayah Indonesia masih diguyur hujan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) justru bermunculan di kawasan gambut Sumatra…
Ina Sahana, warga Kecamatan Bukit Batu, Bengkalis, Riau mengalami batuk selama beberapa pekan terakhir ini. Perempuan berusia 24 tahun ini bolak-balik ke dokter, tetapi tak kunjung sembuh. "Soalnya sudah minum obat, kena polusi lagi, banyak kabut asap di daerah saya, " keluh guru sekolah dasar ini.
Analisis organisasi lingkungan Pantau Gambut dan WALHI Kalimantan Barat menunjukkan sedikitnya 5.490 titik panas terdeteksi di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) pada Januari 2026 dan 5.114 titik panas kembali muncul pada Februari 2026. Menurut Pantau Gambut, temuan ini menandakan bahwa kebakaran gambut sudah terjadi bahkan sebelum musim kemarau dimulai.
Riau dan Kalimantan Barat menjadi dua wilayah dengan jumlah kebakaran tertinggi pada Februari 2026. Di Riau, terdeteksi sekitar 2.890 titik panas, sementara di Kalimantan Barat terdapat sekitar 1.316 titik panas. Dalam temuan Pantau Gambut, konsentrasi titik api ini menunjukkan bahwa ekosistem yang telah mengalami degradasi tetap sangat rentan terbakar.
Perkebunan sawit biang keladinya?
Analisis Pantau Gambut juga menunjukkan bahwa sebagian titik panas muncul di wilayah konsesi perusahaan. Dari pemetaan yang dilakukan, sedikitnya 1.080 titik panas berada di area konsesi perkebunan sawit (HGU) dan 250 titik panas di konsesi hutan tanaman industri (PBPH-HTI).
Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalimantan Barat, Indra Syahnanda menyampaikan kondisi ini mengindikasikan bahwa kerentanan kebakaran di gambut tidak dapat dilepaskan dari praktik pengelolaan lahan dan kerusakan ekosistem yang telah berlangsung lama: ”Peningkatan kebakaran dalam dua bulan terakhir telah memicu munculnya kabut asap di sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Barat.” Asap tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan warga, imbuhnya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif WALHI Riau, Eko Yunanda, mengungkapkan "Kebakaran di Riau banyak terjadi di pulau-pulau kecil yang didominasi ekosistem gambut, seperti Pulau Bengkalis, Pulau Rupat, dan Pulau Mendol.” Ditambahkannya, dalam beberapa dekade terakhir, pulau-pulau ini mengalami perubahan besar akibat pembukaan lahan dan ekspansi konsesi yang membuat kawasan gambut semakin rentan terbakar.
Menurutnya, situasi ini semakin mengkhawatirkan jika melihat proyeksi kondisi iklim tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih cepat di banyak wilayah Indonesia. Sekitar 46 persen wilayah diperkirakan mengalami kemarau lebih awal dari biasanya. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026, dengan kondisi yang berpotensi lebih kering di sejumlah wilayah.
Peringatan serius sebelum kemarau tiba
Sementara itu, Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, menegaskan bahwa kemunculan ribuan titik api pada awal tahun seharusnya menjadi peringatan serius bahwa kebakaran gambut bukan sekadar fenomena musiman.
"Jika kebakaran sudah muncul bahkan saat musim hujan, itu berarti kerentanan ekosistem gambut kita sudah sangat tinggi dan perlindungan belum berjalan efektif. Tanpa upaya serius untuk melindungi dan memulihkan gambut yang telah rusak, kebakaran akan terus berulang setiap tahun dengan skala kerusakan yang semakin besar”, ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah perlu memperkuat langkah pencegahan sejak dini. "Pemerintah perlu memperkuat perlindungan kawasan gambut, meningkatkan pengawasan pada wilayah konsesi, serta mempercepat pemulihan ekosistem gambut yang telah mengalami degradasi, agar kebakaran tidak terus berulang”.
Lahan gambut Indonesia sebagai penyimpan karbon dunia
Putra menuturkan, Indonesia adalah salah satu pemilik luasan gambut tropis terbesar di dunia dengan luas mencapai 13,43 juta hektare yang tersebar di tiga pulau besar yaitu Sumatra, Kalimantan dan Papua. Lahan gambut di Indonesia menyimpan sekitar 57 gigaton karbon atau 20 kali lipat karbon tanah mineral biasa.
"Cadangan karbon yang tersimpan di dalam tanah gambut akan terlepas ke udara jika lahan gambut dikeringkan atau dialihfungsikan. Padahal, gambut menyimpan sekitar 30% karbon dunia," jelasnya.
Gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer akan menahan panas dari matahari sehingga meningkatkan suhu bumi, tandas Putra. Proses yang dikenal sebagai efek rumah kaca ini dapat mempercepat laju perubahan iklim.
"Oleh sebab itu, melindungi dan mencegah kerusakan lahan gambut menjadi sangat penting dalam upaya pencegahan perubahan iklim,” pungkasnya kepada DW.
Dikutip dari Kompas, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Bengkalis, Riau, akhir bulan lalu menetapkan satu orang tersangka kasus perambahan dan pembakaran hutan. Berdasarkan hasil koordinasi awal kepolisian dengan Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH), diketahui lokasi tersebut berstatus Hutan Produksi yang dapat Dikonversi (HPK).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BDeutsche-Welle76318303_403.jpg.jpg)