Sabtu, 2 Mei 2026

Rupiah Terus Melemah, Industri Lokal Lebih Kompetitif di Pasar Ekspor

Bagi industri yang menggunakan bahan baku dalam negeri, pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi peluang meningkatkan daya saing di pasar ekspor.

Tayang:
Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
TRIBUN JATENG/HERMAWANHANDAKA
PELUANG SAAT RUPIAH MELEMAH - ktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jawa Tengah. Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi peluang meningkatkan daya saing di pasar ekspor bagi industri yang menggunakan bahan baku dalam negeri. 
Ringkasan Berita:
  • Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menjadi peluang meningkatkan daya saing di pasar ekspor bagi industri yang menggunakan bahan baku dalam negeri, 
  • Kondisi ini menjadi tantanan bagi industri yang masih mengandalkan bahan baku impor namun kondisi tersebut diklaim belum berdampak langsung dalam jangka pendek.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah belakangan mengalami tekanan seiring menguatnya dolar AS dan pada Kamis (30/4/2026) ini kurs dolar terhadap rupiah mencapai Rp 17.371.

Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan industri, terutama terkait biaya produksi dan stabilitas usaha. Tetapi, bagi industri yang berbasis bahan baku dalam negeri, kondisi ini menjadi momentum untuk meningkatkan daya saing di pasar ekspor.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menyampaikan, pelemahan rupiah justru memberikan keuntungan bagi sektor industri tertentu.

"Kalau mata uangnya itu makin kena tekanan, ekspor kita bagus," ujar Putu Juli Ardika dalam Konferensi Pers rilis IKI, Jakarta Selatan, Rabu (30/4/2026).

"Salah satu alasan kenapa ekspor kita meningkat itu adalah produk-produk kita makin bersaing di luar. Itu untuk industri-industri yang bahan bakunya memang dari dalam negeri. Seperti kertas dan barang dari kertas, produk-produk CPO dan turunannya itu daya saingnya akan luar biasa," ungkapnya.

Meski demikian, Putu mengakui bagi industri yang masih mengandalkan bahan baku impor menghadapi tantangan, namun kondisi tersebut belum berdampak langsung dalam jangka pendek.

"Untuk produk-produk yang masih menggunakan bahan baku impor, ini memang ada kendala tapi kita masih ada ruang, waktu untuk melihat perkembangan, karena yang impor ini kita pakai Neraca Komoditas."

Baca juga: Rupiah Terpuruk, Benarkah Kebal dari Intervensi BI?

"Neraca Komoditas itu sudah kontrak jangka panjang dan barangnya sudah banyak masuk ke Indonesia, sehingga di sisi industrinya masih belum terdampak walaupun nanti kita lihat perkembangannya," jelasnya.

Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief menambahkan, pemerintah mendorong pelaku industri untuk memanfaatkan skema Local Currency Settlement (LCS) yang difasilitasi Bank Indonesia guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional.

"Memang betul untuk industri yang bahan bakunya impor kami mengimbau agar memanfaatkan fasilitas Bank Indonesia LCS (Local Currency Settlement). Jadi pembelian bahan baku menggunakan mata uang antar dua negara, misalkan dari negara A bisa pakai mata uang negara A," kata Febri.

Baca juga: Rupiah Anjlok Jadi Rp17.300 per Dolar AS, Pengamat: Terburuk, tapi Tak seperti Krisis 1997-1998

Febri menilai kondisi nilai tukar saat ini juga bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperluas pasar ekspor, khususnya bagi industri yang selama ini berorientasi domestik.

"Yang kedua, momen ini bisa dimanfaatkan oleh industri untuk memperkuat atau untuk bisa melakukan penetrasi ekspor."

"Kalau selama ini industrinya berorientasi pada pasar domestik, inilah momentum untuk masuk ke pasar global, ke rantai pasok global. Barangkali industri yang produknya sudah masuk ke rantai pasok global untuk memperkuat global value chain-nya," imbuhnya.

Dia menilai dinamika nilai tukar rupiah dapat menjadi semacam insentif alami bagi industri, meski bukan dalam bentuk kebijakan langsung dari pemerintah.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved