Harga Saham
Pelemahan Rupiah dan Melonjaknya Harga Minyak Dunia Jadi Ujian Berat IHSG
IHSG diproyeksi melemah di kisaran 6.700–7.250, dipengaruhi tekanan global dan kekhawatiran domestik.
Ringkasan Berita:
- IHSG turun 0,99 persen ke 7.026, dibayangi outflow asing Rp2,8 triliun akibat sentimen geopolitik global.
- Rupiah melemah ke Rp17.000 per dolar AS dan lonjakan harga minyak memperbesar risiko inflasi serta defisit APBN.
- IHSG diproyeksi melemah di kisaran 6.700–7.250, dipengaruhi tekanan global dan kekhawatiran domestik.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,99 persen di level 7.026 akhir perdagangan, Kamis (2/4/2026).
Saat pelemahan IHSG minggu lalu, investor asing melakukan penjualan (outflow) mencapai Rp 2,8 triliun di pasar reguler.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menjelaskan, ada sentimen global dan domestik yang menyebabkan pasar saham Indonesia masih lesu.
Baca juga: India Beli Minyak Iran Lagi setelah 7 Tahun di Tengah Gejolak Timur Tengah
Dari global ada sentimen tensi geopolitik, dimana Donald Trump telah menyatakan siap menyerang Iran secara frontal. Ancaman serangan AS ke Iran ini membuat investor global panik dan buru-buru beralih ke safe haven.
"Akibatnya muncul ketidakpastian tinggi, sehingga aset berisiko seperti saham di pasar berkembang, termasuk IHSG kemungkinan besar bakal kena aksi jual jangka pendek," jelas David dikutip Senin (6/4/2026).
Sementara itu dari domestik ada sentimen Program B50, dimana pemerintah Indonesia melalui Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan tingkat pencampuran biodiesel berbasis sawit akan ditingkatkan menjadi 50% (B50) mulai 1 Juli dari sebelumnya 40%.
Dikhawatirkan, pengalihan berlebih CPO ke biodiesel berisiko memicu kenaikan harga minyak goreng dan inflasi yang dapat menekan daya beli masyarakat serta memberikan sentimen negatif bagi sektor Consumer Goods.
Berbicara tentang potensi market pada 6-10 April 2026, David mengimbau investor dan trader untuk memantau perkembangan nilai tukar Rupiah dan harga minyak.
"Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi ujian berat akibat kombinasi lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar Rupiah yang cukup drastis," tandasnya.
Ia menambahkan ketika harga minyak mentah bertahan di atas 100 dolar AS per barel, beban subsidi energi dalam APBN akan membengkak secara signifikan sehingga mengancam batas aman defisit fiskal negara.
"Tekanan ini diperparah oleh posisi rupiah yang sempat menembus level Rp17.000 per Dolar AS yang secara otomatis meningkatkan biaya impor bahan baku dan memicu kenaikan inflasi domestik," tuturnya.
IHSG diproyeksikan bergerak melemah dengan rentang support di level 6.700 dan resistance pada 7.250 karena dipicu juga sentimen negatif akibat penyesuaian komposisi kepemilikan saham yang tinggi (high shareholding composition) sejalan dengan proyeksi metodologi MSCI yang sebelumnya telah diantisipasi pasar.
Hal senada juga disampaikan Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda.
Ia mengatakan, pelemahan IHSG pekan kemarin dipicu oleh sentimen global yang kembali memburuk, terutama terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/IHSG-Kembali-Melemah-Pada-Penutupan-Perdagangan_20260202_204735.jpg)